1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer

Pendirian Sekolah Cakrabuana

DASAR PEMIKIRAN PENDIRIAN SEKOLAH CAKRA BUANA:

Kurikulum Nasional yang dilaksanakan saat ini dirasa cenderung mengadopsi budaya barat yang semata mengagungkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tanpa memberikan keleluasaan bagi berkembangnya budaya leluhur. Hal ini menyebabkan generasi penerus sebagai pewaris budaya bangsa kurang mengenal nilai-nilai moral, etika dan tata karma para leluhur.

Bergesernya nilai-nilai moral sebagai perwujudan dari budaya timur saat ini menyebabkan kehidupan sosial sehari-hari tidak lagi mencerminkan dambaan leluhur kita, yaitu silih asah, silih asih, silih asuh diantara sesame manusia.

Timbulnya kekhawatiran terhadap budaya lokal yang makin terdesak karena arus budaya global, disertai timbulnya kebutuhan untuk memelihara identitas nasional, dengan tetap memahami standar pergaulan internasional.

Dunia pendidikan harus bekerja keras untuk membangun kembali citra bangsa ini agar manusia Indonesia bisa bangga mengakui sebagai Bangsa Indonesia. Dalam kondisi yang sudah sangat terpuruk ini, satu-satunya harapan adalah dunia pendidikan. (Mantan Menteri Pendidikan Nasional, Prof.DR.A. Malik Fajar di harian Kompas -28/3/02)

Pemilihan nama “CAKRA BUANA” telah melalui pemikiran yang mendalam dan hati-hati. Pangeran Cakra Buana merupakan Sesepuh Kesultanan Cirebon pada masa awal penyebaran Islam di Pulau Jawa yang harum namanya karena keteladanan beliau. Pangeran Cakra Buana adalah salah satu putra Prabu Siliwangi, Raja Padjajaran, yang mendirikan Keraton Pakungwati Cirebon Nagari. Pangeran Cakra Buana adalah Uwak dari Sunan Gunung Jati Syekh Syarief Hidayatullah. Secara harfiah, “Cakra” berarti “Senjata” , dan “Buana” berarti “Dunia”. Dikaitkan dengan misinya sebagai lembaga pendidikan, arti dari Cakra Buana adalah : PENDIDIKAN ADALAH SENJATA UNTUK MENATA DUNIA